Kumulai langkah ini untuk mengenalnya,
Semakin jauh, semakin tersingkap rahasia.
Sosok yang kini berdiri di hadapanku,
Bukan lagi dirinya yang dulu,
Namun jejak masa lalu perlahan membentuknya.
Aku termenung, mencoba memahami,
Adakah ini kehendaknya sendiri,
Ataukah sekadar peran yang dipaksakan waktu?
Senyumnya terlihat tenang,
Namun matanya menyimpan badai yang sunyi.
Ia tampak akrab dengan dirinya kini,
Seolah merangkul takdir yang tergariskan.
Namun, jauh di relung hatinya,
Ada kesunyian yang tak pernah bersuara,
Ada rindu pada dirinya yang pernah ada.
Aku ingin menyentuh sisi itu,
Membawanya pulang ke keaslian yang hilang.
Bukan bayang masa lalu yang memimpin,
Namun cahaya dirinya yang sejati bersinar terang.
Di balik topeng yang ia kenakan,
Aku tahu ia mendamba kebebasan.
Bebas dari belenggu kerangka lama,
Bebas menjadi dirinya, sepenuh jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar