Melihat ke Atas, Melihat ke Bawah: Sebuah Renungan tentang Syukur dan Ambisi
Puisi adalah curahan hati,dimana kamu merasakan sesuatu,tulis yang kau rasakan itu,hal itu semacam memindahkan perasaan kedalam tinta dan kertas di hadapanmu. Kau tak punya tempat untuk bercerita,kau tak punya tempat untuk mencurahkan rasa, disitulah puisi hadir untukmu
tentang syukur
puisi tentang kenangan di pantai
Hatiku mulai membujukku,
dengan bisikan lembut yang tak bisa kutolak,
mengetuk perlahan pintu rasa yang lama terkunci,
mengajak kembali ke waktu,
di mana kenangan bukan sekadar bayangan,
melainkan hidup bernafas dalam diam.
Malam itu sunyi,
aku duduk sendiri, menggenggam waktu yang tak kembali.
Kubuka TikTok-ku, seperti biasa,
scroll demi scroll kulalui tanpa makna,
hingga satu video menjerat pandanganku,
pantai biru, ombak lembut, dan cahaya senja
Oh Watunene, bisik hatiku.
Tiba-tiba, angin lalu meniup jiwaku
membawa aroma asin laut dan kenangan yang tak kusangka kembali.
Terputar jelas seperti film di kepala,
aku berlari, di antara pasir yang memeluk kaki telanjangku,
ombak bernyanyi memanggil nama kita berdua,
dan dia,yang kini masih menggenggam tanganku
tersenyum seperti tak ada duka.
Saat itu, dunia terasa begitu sederhana,
hanya tawa, pasir, langit jingga,
dan hati yang saling percaya.
Kami berteriak tanpa beban,
mengejar angin, menertawai lelah,
hingga lupa bahwa tubuh ini pernah rapuh.
Watunene bukan hanya pantai,
ia adalah tempat di mana aku menemukan arti "pulang",
bukan pada rumah, bukan pada kota,
melainkan pada seseorang
yang hadir bukan untuk menetap,
tetapi untuk membuat kenangan tak pernah padam.
Kini, meski waktu terus melaju,
dan pantai itu entah masih sama atau tidak,
namun dalam hatiku,
Watunene tetap hidup
sebagai puisi, sebagai kenangan,
dan sebagai tempat di mana aku pernah benar-benar bahagia.
Jangan Dikit-Dikit Putus: Tentang Rasa dan Hubungan
Sebelum aku menulis ini, entah kenapa aku sedang berada di fase menulis seadanya. Nggak terlalu mikirin metafora, estetika, atau keindahan kata seperti saat menulis puisi. Bukan berarti aku bosan, bukan juga kehilangan rasa. Justru sebaliknya, saat menulis puisi, aku tidak terlalu melibatkan pikiranku. Rasanya seperti bahasa hati yang mengalir lewat tangan. Tapi kali ini, aku ingin bicara. Dari hati ke hati. Tentang sesuatu yang mungkin sering kita temui, tapi jarang benar-benar kita pahami.
Tentang hubungan.
Aku sadar, sekarang ini banyak orang yang menganggap bahwa jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah dalam hubungan adalah… putus. Iya, semudah itu. Kadang baru ada masalah kecil, langsung muncul kalimat: “Udah deh, kita putus aja.” Seolah-olah itu solusi dari segalanya.
Padahal belum tentu masalahnya besar. Kadang cuma salah paham. Kadang cuma kurang komunikasi. Tapi kata "putus" sering kali dijadikan senjata, kadang sengaja dipakai untuk mengancam, kadang cuma buat ngetes, kadang karena nggak tahu cara lain buat nunjukin rasa kecewa.
Masalahnya adalah, kalau kata itu terlalu sering diucapkan, pasangan kita bisa capek. Awalnya mungkin dia masih berusaha nenangin, masih bilang, “Jangan gitu dong, kita selesaikan baik-baik.” Tapi kalau terus-terusan? Dia bisa merasa lelah. Merasa tidak dihargai. Dan pada akhirnya... dia bisa benar-benar pergi.
Dan di saat itu terjadi, penyesalan sering datang belakangan. Karena ternyata, kehilangan itu baru terasa ketika yang kita ancam pergi... benar-benar pergi.
Aku bukan siapa-siapa. Cuma seseorang yang pernah melihat dan mengalami bahwa hubungan itu butuh lebih dari sekadar cinta. Butuh kesabaran, komunikasi, dan yang paling penting: keinginan untuk bertahan. Kalau setiap ada masalah kita gampang menyerah, lalu apa gunanya kita pernah bilang sayang?
Jangan jadikan kata "putus" sebagai pelarian. Karena hubungan itu bukan tentang siapa yang paling menang debat, tapi siapa yang paling mau bertumbuh bersama.
Kalau kamu sayang, perjuangkan. Kalau kamu bingung, komunikasikan. Jangan terburu-buru melepaskan hanya karena emosi sesaat.
Karena ada yang namanya kehilangan, dan ada juga yang namanya penyesalan. Dan keduanya tidak akan pernah semanis awal mula.
Tentang jodoh
Kali ini kita ngobrol santai soal jodoh, ya. Biasanya mungkin bahas cinta itu lewat puisi, tapi sekarang coba kita lihat dari sudut pandang yang lebih jujur dan realistis.
Perihal jodoh ya,banyak yang bilang jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi, pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia nggak punya peran sama sekali dalam hal itu?
Menurutku, memang benar kalau jodoh udah ditakdirkan sama Allah. Tapi kalau kita sendiri nggak ngapa-ngapain, cuma duduk diam dan berharap jodoh datang tiba-tiba, ya kemungkinan besar nggak akan terjadi. Karena jodoh itu nggak kayak hujan yang jatuh dari langit begitu aja. Kita tetap harus usaha.
Ibaratnya begini,ada orang yang dipenjara, nggak bisa kemana-mana, nggak bisa kenalan sama siapa-siapa. Kira-kira, dia bisa nemu jodoh nggak? Mungkin aja bisa, karena nggak ada yang mustahil bagi Allah. Tapi kalau kita mikir jodoh bakal datang sendiri tanpa kita ngelangkah, tanpa membuka diri, tanpa memperbaiki diri, ya itu mustahil.
Allah nyuruh kita buat usaha. Bahkan dalam Al-Qur'an pun jelas disebut, Allah nggak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Termasuk urusan jodoh.
Sering kali kita terlalu nunggu “tanda-tanda dari langit,” padahal bisa jadi jodoh itu hadir lewat langkah kecil yang kita ambil. Bisa dari memperluas pergaulan, memperbaiki akhlak, menyapa duluan, atau sekadar membuka hati.
Tapi setelah usaha, tetap harus pasrah juga. Karena ada kalanya kita udah merasa cocok, udah berjuang, tapi ujungnya nggak berjodoh. Di situ kita belajar, bahwa jodoh bukan soal siapa yang paling keras ngejar, tapi siapa yang Allah pilih untuk kita.
Terus, ada juga temanku yang pernah nanya,
"Gimana kalau kita udah berusaha, tapi yang kita usahakan itu nggak ngusahain balik?"
Dan jujur aja, pertanyaan itu nyakitin banget. Karena nggak ada yang lebih capek daripada berjuang sendirian dalam hubungan yang harusnya dijalani berdua.
Hubungan itu kerja sama dua orang. Bukan cuma satu yang ngejar, satu lagi cuek. Kalau cuma satu yang berjuang, itu bukan cinta itu pengorbanan sepihak.
Kadang kita terlalu fokus ngejar seseorang, sampai lupa nanya ke diri sendiri,"Dia ngejar balik nggak sih?"
Dan di situ pentingnya kita punya batas. Kita boleh usaha, tapi juga harus sadar kapan harus berhenti. Karena cinta yang sehat itu saling. Sama-sama mau, sama-sama niat, sama-sama usaha.
Kalau nggak ada timbal balik, mungkin itu tandanya dia bukan orang yang Allah siapkan buat kita. Dan bukan berarti kita gagal. Bisa jadi justru kita diselamatkan.
Iya, rasanya pasti sakit. Tapi lebih sakit lagi kalau terus-terusan bertahan di hubungan satu arah. Karena cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi siapa yang mau berjalan bareng.
Jadi, kalau kamu udah usaha tapi nggak ada respon, nggak apa-apa kok kalau kamu mundur. Bukan berarti kamu menyerah, tapi kamu sedang menjaga hati. Biar nanti, ketika waktunya tiba, kamu bisa kasih cinta yang sehat buat orang yang juga siap berjuang buat kamu.
Percayalah, jodoh itu akan datang. Nggak cuma sebagai jawaban dari doa-doamu, tapi juga sebagai orang yang akan mengusahakan kamu seperti kamu mengusahakan dia.
Puisi tentang kesedihan
Tulisan Terakhir Tentangmu?
Kau, wanita di balik buku-buku
Yang dulu kupuja sepenuh rindu
Kau, mawar putih dari taman yang bisu
Yang kuanggap paling indah di antara yang berlalu
Kau, gadis Melayu,
Elok dan anggun, sebagaimana katanya waktu itu
Namun kini,
Mengapa tiap larikku justru penuh pilu?
Kapan terakhir kutulis
Tentang tawa yang tak semu?
Mungkin,
Kau tetap wanita di balik buku-buku
Namun tak sehangat damainya perpustakaan itu
Kau memang mawar putih yang berbeda
Namun durimu lebih tajam dari luka
Kau, gadis Melayu
Namun tak seramah tutur margamu
Dan aku...
Entah apa lagi yang harus kutulis
Mungkin inilah akhirnya,
Tulisan terakhirku tentangmu
Di antara buku-buku, mawar putih, dan kenangan yang bisu.
Puisi tentang kota solo
Dalam pelukan kota solo
Solo, kota dengan nafas ilmu,
Langkah-langkah bijak tumbuh di sudut-sudut sekolahmu.
Guru-guru menanam hikmah
pada tiap benih yang haus akan makna.
Kau bukan sekadar tanah peradaban,
tapi ladang harapan yang terus ditanam,
disiram oleh cita dan keyakinan.
Solo, kau berbalut batik indah,
setiap helai menyimpan cerita
tentang tangan-tangan cekatan yang menari di atas malam,
mewarnai dunia dengan warisan agung
yang tak lekang oleh musim atau waktu.
Lalu kulangkahkan kaki di tengah aroma
nasi liwet hangat, tengkleng penuh kenangan,
mengisi ruang kosong di perut dan hati
dengan rasa yang begitu bersahaja
namun tak mudah dilupa.
Dan di antara alun-alun yang tenang,
keratonmu berdiri tak tergoyahkan
menjadi nafas budaya,
mengajarkan diam yang bijak
dan spiritualitas yang lembut
seperti tembang-tembang yang dilantunkan malam.
Namun, di balik segala keindahanmu,
aku datang dengan hati yang retak,
menyisipkan duka di sela-sela angin sore hari,
dan kau, kota sunyi yang bersahabat,
tak pernah menolakku.
Kau tak pernah berkata,
tapi selalu mendengar.
Tak pernah bertanya,
tapi selalu mengerti.
Di antara keramaian,
aku justru menemukan ketenangan.
Di tengah lalu lalang manusia,
aku menemukan pelukan tak terlihat
yang tak menghakimi luka atau tangis.
Solo, engkau bukan hanya kota,
engkau adalah sahabat yang sabar,
ibu yang mengayomi,
dan ruang teduh di tengah teriknya dunia.
Tetaplah menjadi rumah,
bagi siapa pun yang lelah
dan ingin pulang,
meski hanya untuk sebentar
menaruh hatinya yang lelah
di pangkuanmu yang ramah.
Puisi sedih
Karma
Akhirnya aku percaya,
karma itu nyata.
Datang tanpa suara,
menikam tanpa ampun,
di saat aku paling lengah.
Rasanya perih,
bukan luka biasa.
Aku yang tak kenal air mata,
kini basah karena satu nama.
Tuhan...
kenapa karma ini Kau jatuhkan padaku?
Apa aku sebegitu pantas dihukum,
atau ini bagian dari perhitungan-Mu?
Tapi ketakutanku bukan soal diriku,
bukan soal rasa yang tercabik.
Yang kutakutkan adalah saat,
dia yang memberi luka,
akan dihancurkan dengan cara yang sama.
Karena karma adalah rantai yang tidak akan terputus
Jika yang diberi karma mampu memutusnya.
Puisi tentang friendly
Terlalu Friendly
Kamu bilang
"Aku cuma friendly"
Katamu, itu bagian dari diri
Ramah pada semua
Tersenyum tanpa pilih siapa
Tapi tahukah kamu
Friendly-mu itu indah
Dan sekaligus menyiksa
Bukan karena kamu salah
Tapi karena aku jatuh cinta
Pada seseorang
Yang tak pernah membedakan rasa
Antara aku dan dunia
Aku tahu
Friendly bukan berarti gatal
Bukan pula ajakan
Tapi di hatiku yang mencintaimu dalam diam
Setiap sapamu ke mereka
Terasa seperti kehilangan
Aku ingin jadi yang spesial
Bukan hanya penikmat sapaan formal
Aku ingin kamu menoleh
Bukan hanya karena basa-basi
Tapi karena kamu sadar
Di antara semua yang kau ramahi
Ada aku yang tak cuma ingin disebut “teman yang baik hati”
Friendly boleh
Tapi bukankah cinta itu harus punya sisi yang pribadi
Bukan dibagi ke semua
Tanpa tahu siapa yang benar-benar menanti
Aku mencintaimu
Bahkan saat aku harus bersaing
Dengan caramu tersenyum ke orang lain
Tapi tetap
Dalam hati kecilku berharap
Friendly-mu ada batasnya
Dan batas itu… adalah aku
Puisi tentang bertahan
Simpang lima boyolali
disitu aku diajari banyak hal
Tentang apapun itu
Termasuk hal tentang bertahan.
saat kau lama bersama seseorang
kau tak lagi melihatnya dengan cara yang sama
Bukan karena cinta memudar
tapi karena kau mulai melihatnya lebih utuh, lebih nyata
Dulu, kau jatuh cinta pada senyum manisnya
tawanya yang sederhana
perhatian kecil yang entah bagaimana
menyelamatkan harimu yang gelap.
Dulu, ia adalah rumah yang hangat
Namun waktu berjalan
dan sisi-sisi lain pun muncul
kelelahan yang diam-diam tertumpuk
emosi yang kadang tak terkendali
kebiasaan yang tak selalu sejalan
Cinta dulu menutup matamu dengan harapan
Lalu datang wajah baru
dengan cerita yang belum kau tahu
Kau bertanya
kenapa rasanya lebih mudah mencintainya?
Padahal
kau lupa, dulu kau juga memulai dari titik yang sama
Siklus itu berulang
Setiap orang membawa luka
setiap hubungan membawa ujian
Jika kau memilih yang baru
bulan madu akan datang kembali
Namun setelahnya
kekurangan kembali muncul
keraguan kembali menyapa
dan mungkin
keinginan untuk menemukan yang baru lagi
Bukan karena dia tak pantas dicinta
tapi karena kau tak pernah belajar bertahan
Cinta bukan tentang yang sempurna
tapi tentang memilih, setiap hari
Menerima sisi gelapnya
dan tetap memilih untuk tinggal
Puisi tentang cemburu
Hari Ini, Aku Iri
Hari sial tak mengetuk pintu,
ia datang tanpa aba-aba,
menyelinap sunyi,
menusuk hati tanpa suara.
Kulangkahkan kaki pulang dari kampus,
dengan tubuh letih,
jiwa penat,
dibalut sepi yang tak kupinta.
Di tangga itu,
dua insan tertawa ringan,
berbagi kisah tentang lelahnya kuliah.
Lelah yang justru terasa indah,
karena ada tempat untuk bersandar cerita.
Aku diam...
lalu iri.
Kakiku melangkah pergi,
tapi pikiranku tertinggal di sana,
pada bayangan,
andai tawa itu milikku.
Langit pun ikut bersedih,
menurunkan hujan deras seketika.
Aku berteduh,
di bawah atap toko yang asing,
dengan rokok di tangan,
yang bahkan tak sempat kuhidupkan.
Pandangan tertuju pada dua anak SMA,
bersuap-suapan makanan sederhana,
tapi tawa mereka lebih hangat dari kopi pagi.
Aku menghela napas,
lagi-lagi...
aku iri.
Aku putuskan menerobos hujan,
membiarkan dingin meresap,
mungkin bisa meredam yang membakar di dada.
Tapi tak jauh dari sana,
sepasang kekasih melaju di atas motor,
tanpa jas hujan,
tapi penuh canda dan tawa.
Mereka basah,
tapi terlihat paling bahagia di dunia.
Sementara aku?
Masih sendiri,
masih basah,
masih bertanya
mengapa bukan aku yang merasa begitu?
Gas kupelintir,
mata kupejam sesaat,
dan bibirku berbisik...
Sial sekali... hari ini.
Puisi tentang cinta
Salatiga, 14 April 2025
Hujan berderu, menggetarkan langit
Daun-daun gemetar, tak kuasa menampung air yang tumpah
Petir menyalak, menyayat angin
Membuat langkah-langkah memilih diam dalam ruang
Aku duduk di pinggir jendela kelas
Menatap derasnya hujan yang jatuh tanpa kompromi
Setangkai rokok membara di jemari
Segelas teh manis menghangatkan sunyi
Aku diam…
Tenggelam dalam benak yang riuh
Mencari makna paling sunyi dari kata "cinta"
Apakah cinta itu
Saat kita bersikap baik tanpa syarat?
Ataukah saat kita memberi tanpa pernah diminta?
Mungkinkah cinta adalah kebebasan
Yang membiarkan jiwa tumbuh tanpa belenggu?
Pertanyaan-pertanyaan itu
Berkelindan seperti kabut di jendela
Mengaburkan pandang
Membuatku pusing,
Tapi tak bisa berhenti memikirkan
Napak Tilas di Gunung Tidar
Di sebuah sore yang sunyi,
kutapakkan kaki di lereng Tidar yang berselimut kabut.
Gunung ini bukan sekadar hamparan tanah dan pepohonan,
melainkan kitab tua yang bisu,
menyimpan lembar-lembar sejarah
dalam bebatuannya,
dalam desir anginnya,
dalam gema doa para pejalan ziarah.
Aku bukan hanya datang membawa tubuh,
tapi juga membawa tanya,
membawa rindu yang tak bernama,
pada masa yang tak pernah kutemui,
masa di mana tanah ini pertama kali bergetar oleh makna.
Peristiwa demi peristiwa tak hanya berlari,
mereka menetap di sini,
menjadi tapal jejak peradaban,
bukan dongeng pengantar tidur,
melainkan kisah yang terpatri dalam akar,
dalam setiap desir tanah yang kugenggam.
Syekh Subakir,
sang pengelana dari negeri seberang,
menancapkan paku tak kasat mata,
bukan untuk menguasai,
tapi untuk menenteramkan,
agar tanah Jawa berhenti menggeliat,
agar angkara tunduk pada cahaya.
Sabdo Palon,
sang penjaga janji,
masih terdengar lirih suaranya,
di antara kabut dan waktu yang mengendap,
ia tak pergi, hanya menunggu,
hingga suara zaman memanggil kembali.
Magelang,
bukan hanya kota kecil di tengah pulau,
ia adalah jantung dari cerita yang terlupakan,
pelataran bagi jiwa-jiwa yang mencari arah,
penjaga kisah yang terlalu suci untuk dilupakan.
Kini aku di sini,
berdiri di atas tanah yang sama,
yang pernah disentuh oleh mereka yang menulis sejarah,
dengan doa, dengan darah, dengan harapan.
Kupejamkan mata,
dan dalam diam kubayangkan,
bagaimana suara masa lalu menggema di antara pohon-pohon tua,
bagaimana langkah para wali menelusuri jalan terjal
dengan cahaya di dada dan sabar di kaki.
Aku ingin melihatnya,
bukan dengan mata,
tapi dengan jiwa.
Ingin merasakannya,
bukan lewat cerita,
tapi lewat napas yang menggetarkan dada.
Gunung Tidar,
hari ini aku datang bukan sebagai tamu,
tapi sebagai anak dari tanah yang sama,
yang ingin tahu, yang ingin mengerti,
yang ingin memeluk sejarah
bukan untuk kembali ke masa lalu,
tapi untuk membawa maknanya ke masa depan.
Dalam Sepi yang Kupeluk Sendiri
excited
mengirim tautan video,
sesuatu yang viral,
sesuatu yang harusnya lucu.
Aku tertawa kecil,
menunggu jeda,
menunggu balasan,
menunggu......
Tapi kau,
acuh.
Diam.
Tak ada suara, tak ada tawa.
Seperti berbicara dengan batu,
aku mengetuk,
aku berdeham,
aku bertanya dalam hati:
salahkah aku bercanda?
Atau hanya aku yang excited sendiri?
Tiba-tiba, hening terasa lebih panjang,
lebih dalam,
lebih menusuk dari sekadar candaan yang tak kau tanggapi.
Aku meragu,
kau tetap membatu.
Melody cinta
Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...
-
Hati gundah tak menentu, pikiran suram selalu menghantuiku. Ku nyalakan sebatang rokok, kubiarkan asapnya naik perlahan, menyisakan ruang b...
-
Hari demi hari kulewati, Aku tampak biasa di mata mereka, Namun di dalam diriku Ada badai bernama cemas. Sapaan yang berubah Menjadi gema p...
-
Kali ini kita ngobrol santai soal jodoh, ya. Biasanya mungkin bahas cinta itu lewat puisi, tapi sekarang coba kita lihat dari sudut pandan...








