tentang syukur

Melihat ke Atas, Melihat ke Bawah: Sebuah Renungan tentang Syukur dan Ambisi

Kembali lagi dengan rima sendu,
tempat aku biasa menuangkan isi hati dan keresahan hidup yang kadang tak bisa diucap langsung.
Lembaran putih ini menjadi saksi bisu dari pikiran-pikiran yang mungkin juga pernah mampir di benakmu.

Hari ini, aku ingin mengajakmu merenung tentang hal yang sering kita dengar,
tentang miskin dan kaya,
tentang syukur dan ambisi,
tentang melihat ke atas dan melihat ke bawah.

Sering sekali kita mendengar nasihat yang berbunyi:
"Jangan terlalu sering melihat ke atas, nanti kamu lupa bersyukur."

Aku yakin kita semua pernah mendengarnya, atau bahkan mungkin menasihati orang lain dengan kalimat itu. Dan jujur saja, kalimat itu memang benar. Ketika kita terlalu sibuk melihat ke atas,ke kehidupan orang-orang yang lebih berada, lebih sukses, lebih ‘berhasil’,kita seringkali terjebak dalam perasaan iri, dengki, dan tidak puas dengan apa yang kita miliki sekarang.Akhirnya, yang timbul bukan lagi motivasi, tapi rasa tidak cukup, rasa kekurangan, dan luka batin yang tidak terlihat.

Namun, bagaimana jika kita hanya melihat ke bawah? Kepada mereka yang mungkin hidupnya jauh lebih sulit dari kita. Apakah itu akan selalu membawa kita kepada rasa syukur? Atau justru bisa menumbuhkan rasa sombong dalam hati kita?

Mungkin kita akan merasa lebih baik sesaat. Merasa lebih ‘beruntung’, lebih ‘cukup’, dan lebih ‘tinggi’. Tapi jika itu dilakukan terus-menerus, tanpa pengendalian hati, bisa saja kita jatuh ke dalam jebakan kesombongan. Kita mulai merasa "lebih dari orang lain", dan pelan-pelan lupa bahwa semua yang kita miliki juga bisa Tuhan ambil dalam sekejap.

Maka menurutku, semuanya tergantung pada sudut pandang dan niat dalam hati kita. Ada kalanya kita perlu melihat ke bawah, untuk mengingatkan diri bahwa hidup kita tak seburuk itu. Bahwa di tengah rasa lelah dan kecewa, masih ada alasan untuk bersyukur.

Tapi ada kalanya juga kita perlu melihat ke atas, untuk belajar, untuk mendapatkan inspirasi, dan untuk menumbuhkan semangat memperbaiki diri. Bukan dalam rangka membandingkan, tapi sebagai bentuk ikhtiar untuk meningkatkan derajat dan value diri kita.

Syukur dan ambisi, menurutku, bukanlah dua hal yang harus dipisahkan. Kita bisa bersyukur sambil tetap ingin berkembang. Kita bisa rendah hati sambil tetap berusaha naik ke tempat yang lebih tinggi. Kuncinya adalah keseimbangan.

Melihat ke atas untuk belajar.
Melihat ke bawah untuk bersyukur.
Melihat ke dalam untuk mengenali niat hati kita sendiri.

Hidup bukan soal siapa yang lebih dulu sampai di puncak,
tapi siapa yang bisa tetap berjalan,
tanpa kehilangan arah, tanpa kehilangan hati.

puisi tentang kenangan di pantai


 Hatiku mulai membujukku,

dengan bisikan lembut yang tak bisa kutolak,

mengetuk perlahan pintu rasa yang lama terkunci,

mengajak kembali ke waktu,

di mana kenangan bukan sekadar bayangan,

melainkan hidup bernafas dalam diam.


Malam itu sunyi,

aku duduk sendiri, menggenggam waktu yang tak kembali.

Kubuka TikTok-ku, seperti biasa,

scroll demi scroll kulalui tanpa makna,

hingga satu video menjerat pandanganku,

pantai biru, ombak lembut, dan cahaya senja

Oh Watunene, bisik hatiku.


Tiba-tiba, angin lalu meniup jiwaku

membawa aroma asin laut dan kenangan yang tak kusangka kembali.

Terputar jelas seperti film di kepala,

aku berlari, di antara pasir yang memeluk kaki telanjangku,

ombak bernyanyi memanggil nama kita berdua,

dan dia,yang kini masih menggenggam tanganku

tersenyum seperti tak ada duka.


Saat itu, dunia terasa begitu sederhana,

hanya tawa, pasir, langit jingga,

dan hati yang saling percaya.

Kami berteriak tanpa beban,

mengejar angin, menertawai lelah,

hingga lupa bahwa tubuh ini pernah rapuh.


Watunene bukan hanya pantai,

ia adalah tempat di mana aku menemukan arti "pulang",

bukan pada rumah, bukan pada kota,

melainkan pada seseorang

yang hadir bukan untuk menetap,

tetapi untuk membuat kenangan tak pernah padam.


Kini, meski waktu terus melaju,

dan pantai itu entah masih sama atau tidak,

namun dalam hatiku,

Watunene tetap hidup

sebagai puisi, sebagai kenangan,

dan sebagai tempat di mana aku pernah benar-benar bahagia.

Jangan Dikit-Dikit Putus: Tentang Rasa dan Hubungan



Sebelum aku menulis ini, entah kenapa aku sedang berada di fase menulis seadanya. Nggak terlalu mikirin metafora, estetika, atau keindahan kata seperti saat menulis puisi. Bukan berarti aku bosan, bukan juga kehilangan rasa. Justru sebaliknya, saat menulis puisi, aku tidak terlalu melibatkan pikiranku. Rasanya seperti bahasa hati yang mengalir lewat tangan. Tapi kali ini, aku ingin bicara. Dari hati ke hati. Tentang sesuatu yang mungkin sering kita temui, tapi jarang benar-benar kita pahami.

Tentang hubungan.

Aku sadar, sekarang ini banyak orang yang menganggap bahwa jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah dalam hubungan adalah… putus. Iya, semudah itu. Kadang baru ada masalah kecil, langsung muncul kalimat: “Udah deh, kita putus aja.” Seolah-olah itu solusi dari segalanya.

Padahal belum tentu masalahnya besar. Kadang cuma salah paham. Kadang cuma kurang komunikasi. Tapi kata "putus" sering kali dijadikan senjata, kadang sengaja dipakai untuk mengancam, kadang cuma buat ngetes, kadang karena nggak tahu cara lain buat nunjukin rasa kecewa.

Masalahnya adalah, kalau kata itu terlalu sering diucapkan, pasangan kita bisa capek. Awalnya mungkin dia masih berusaha nenangin, masih bilang, “Jangan gitu dong, kita selesaikan baik-baik.” Tapi kalau terus-terusan? Dia bisa merasa lelah. Merasa tidak dihargai. Dan pada akhirnya... dia bisa benar-benar pergi.

Dan di saat itu terjadi, penyesalan sering datang belakangan. Karena ternyata, kehilangan itu baru terasa ketika yang kita ancam pergi... benar-benar pergi.

Aku bukan siapa-siapa. Cuma seseorang yang pernah melihat dan mengalami bahwa hubungan itu butuh lebih dari sekadar cinta. Butuh kesabaran, komunikasi, dan yang paling penting: keinginan untuk bertahan. Kalau setiap ada masalah kita gampang menyerah, lalu apa gunanya kita pernah bilang sayang?

Jangan jadikan kata "putus" sebagai pelarian. Karena hubungan itu bukan tentang siapa yang paling menang debat, tapi siapa yang paling mau bertumbuh bersama.

Kalau kamu sayang, perjuangkan. Kalau kamu bingung, komunikasikan. Jangan terburu-buru melepaskan hanya karena emosi sesaat.

Karena ada yang namanya kehilangan, dan ada juga yang namanya penyesalan. Dan keduanya tidak akan pernah semanis awal mula.

Tentang jodoh

 

Kali ini kita ngobrol santai soal jodoh, ya. Biasanya mungkin bahas cinta itu lewat puisi, tapi sekarang coba kita lihat dari sudut pandang yang lebih jujur dan realistis.


Perihal jodoh ya,banyak yang bilang jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi, pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia nggak punya peran sama sekali dalam hal itu?


Menurutku, memang benar kalau jodoh udah ditakdirkan sama Allah. Tapi kalau kita sendiri nggak ngapa-ngapain, cuma duduk diam dan berharap jodoh datang tiba-tiba, ya kemungkinan besar nggak akan terjadi. Karena jodoh itu nggak kayak hujan yang jatuh dari langit begitu aja. Kita tetap harus usaha.


Ibaratnya begini,ada orang yang dipenjara, nggak bisa kemana-mana, nggak bisa kenalan sama siapa-siapa. Kira-kira, dia bisa nemu jodoh nggak? Mungkin aja bisa, karena nggak ada yang mustahil bagi Allah. Tapi kalau kita mikir jodoh bakal datang sendiri tanpa kita ngelangkah, tanpa membuka diri, tanpa memperbaiki diri, ya itu mustahil.


Allah nyuruh kita buat usaha. Bahkan dalam Al-Qur'an pun jelas disebut, Allah nggak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Termasuk urusan jodoh.


Sering kali kita terlalu nunggu “tanda-tanda dari langit,” padahal bisa jadi jodoh itu hadir lewat langkah kecil yang kita ambil. Bisa dari memperluas pergaulan, memperbaiki akhlak, menyapa duluan, atau sekadar membuka hati.


Tapi setelah usaha, tetap harus pasrah juga. Karena ada kalanya kita udah merasa cocok, udah berjuang, tapi ujungnya nggak berjodoh. Di situ kita belajar, bahwa jodoh bukan soal siapa yang paling keras ngejar, tapi siapa yang Allah pilih untuk kita.


Terus, ada juga temanku yang pernah nanya,

"Gimana kalau kita udah berusaha, tapi yang kita usahakan itu nggak ngusahain balik?"


Dan jujur aja, pertanyaan itu nyakitin banget. Karena nggak ada yang lebih capek daripada berjuang sendirian dalam hubungan yang harusnya dijalani berdua.


Hubungan itu kerja sama dua orang. Bukan cuma satu yang ngejar, satu lagi cuek. Kalau cuma satu yang berjuang, itu bukan cinta itu pengorbanan sepihak.


Kadang kita terlalu fokus ngejar seseorang, sampai lupa nanya ke diri sendiri,"Dia ngejar balik nggak sih?"

Dan di situ pentingnya kita punya batas. Kita boleh usaha, tapi juga harus sadar kapan harus berhenti. Karena cinta yang sehat itu saling. Sama-sama mau, sama-sama niat, sama-sama usaha.


Kalau nggak ada timbal balik, mungkin itu tandanya dia bukan orang yang Allah siapkan buat kita. Dan bukan berarti kita gagal. Bisa jadi justru kita diselamatkan.


Iya, rasanya pasti sakit. Tapi lebih sakit lagi kalau terus-terusan bertahan di hubungan satu arah. Karena cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi siapa yang mau berjalan bareng.


Jadi, kalau kamu udah usaha tapi nggak ada respon, nggak apa-apa kok kalau kamu mundur. Bukan berarti kamu menyerah, tapi kamu sedang menjaga hati. Biar nanti, ketika waktunya tiba, kamu bisa kasih cinta yang sehat buat orang yang juga siap berjuang buat kamu.


Percayalah, jodoh itu akan datang. Nggak cuma sebagai jawaban dari doa-doamu, tapi juga sebagai orang yang akan mengusahakan kamu seperti kamu mengusahakan dia.

Puisi tentang kesedihan


Tulisan Terakhir Tentangmu?


Kau, wanita di balik buku-buku

Yang dulu kupuja sepenuh rindu

Kau, mawar putih dari taman yang bisu

Yang kuanggap paling indah di antara yang berlalu

Kau, gadis Melayu,

Elok dan anggun, sebagaimana katanya waktu itu


Namun kini,

Mengapa tiap larikku justru penuh pilu?

Kapan terakhir kutulis

Tentang tawa yang tak semu?


Mungkin,

Kau tetap wanita di balik buku-buku

Namun tak sehangat damainya perpustakaan itu

Kau memang mawar putih yang berbeda

Namun durimu lebih tajam dari luka

Kau, gadis Melayu

Namun tak seramah tutur margamu


Dan aku...

Entah apa lagi yang harus kutulis

Mungkin inilah akhirnya,

Tulisan terakhirku tentangmu

Di antara buku-buku, mawar putih, dan kenangan yang bisu.

Puisi tentang kota solo


Dalam pelukan kota solo


Solo, kota dengan nafas ilmu,

Langkah-langkah bijak tumbuh di sudut-sudut sekolahmu.

Guru-guru menanam hikmah

pada tiap benih yang haus akan makna.

Kau bukan sekadar tanah peradaban,

tapi ladang harapan yang terus ditanam,

disiram oleh cita dan keyakinan.


Solo, kau berbalut batik indah,

setiap helai menyimpan cerita

tentang tangan-tangan cekatan yang menari di atas malam,

mewarnai dunia dengan warisan agung

yang tak lekang oleh musim atau waktu.


Lalu kulangkahkan kaki di tengah aroma

nasi liwet hangat, tengkleng penuh kenangan,

mengisi ruang kosong di perut dan hati

dengan rasa yang begitu bersahaja

namun tak mudah dilupa.


Dan di antara alun-alun yang tenang,

keratonmu berdiri tak tergoyahkan

menjadi nafas budaya,

mengajarkan diam yang bijak

dan spiritualitas yang lembut

seperti tembang-tembang yang dilantunkan malam.


Namun, di balik segala keindahanmu,

aku datang dengan hati yang retak,

menyisipkan duka di sela-sela angin sore hari,

dan kau, kota sunyi yang bersahabat,

tak pernah menolakku.


Kau tak pernah berkata,

tapi selalu mendengar.

Tak pernah bertanya,

tapi selalu mengerti.


Di antara keramaian,

aku justru menemukan ketenangan.

Di tengah lalu lalang manusia,

aku menemukan pelukan tak terlihat

yang tak menghakimi luka atau tangis.


Solo, engkau bukan hanya kota,

engkau adalah sahabat yang sabar,

ibu yang mengayomi,

dan ruang teduh di tengah teriknya dunia.


Tetaplah menjadi rumah,

bagi siapa pun yang lelah

dan ingin pulang,

meski hanya untuk sebentar

menaruh hatinya yang lelah

di pangkuanmu yang ramah.

Puisi sedih

Karma


Akhirnya aku percaya,

karma itu nyata.

Datang tanpa suara,

menikam tanpa ampun,

di saat aku paling lengah.


Rasanya perih,

bukan luka biasa.

Aku yang tak kenal air mata,

kini basah karena satu nama.


Tuhan...

kenapa karma ini Kau jatuhkan padaku?

Apa aku sebegitu pantas dihukum,

atau ini bagian dari perhitungan-Mu?


Tapi ketakutanku bukan soal diriku,

bukan soal rasa yang tercabik.

Yang kutakutkan adalah saat,

dia yang memberi luka,

akan dihancurkan dengan cara yang sama.


Karena karma adalah rantai yang tidak akan terputus

Jika yang diberi karma mampu memutusnya.

Puisi tentang friendly


 Terlalu Friendly


Kamu bilang

"Aku cuma friendly"

Katamu, itu bagian dari diri

Ramah pada semua

Tersenyum tanpa pilih siapa


Tapi tahukah kamu

Friendly-mu itu indah

Dan sekaligus menyiksa


Bukan karena kamu salah

Tapi karena aku jatuh cinta

Pada seseorang

Yang tak pernah membedakan rasa

Antara aku dan dunia


Aku tahu

Friendly bukan berarti gatal

Bukan pula ajakan

Tapi di hatiku yang mencintaimu dalam diam

Setiap sapamu ke mereka

Terasa seperti kehilangan


Aku ingin jadi yang spesial

Bukan hanya penikmat sapaan formal

Aku ingin kamu menoleh

Bukan hanya karena basa-basi

Tapi karena kamu sadar

Di antara semua yang kau ramahi

Ada aku yang tak cuma ingin disebut “teman yang baik hati”


Friendly boleh

Tapi bukankah cinta itu harus punya sisi yang pribadi

Bukan dibagi ke semua

Tanpa tahu siapa yang benar-benar menanti


Aku mencintaimu

Bahkan saat aku harus bersaing

Dengan caramu tersenyum ke orang lain

Tapi tetap

Dalam hati kecilku berharap

Friendly-mu ada batasnya

Dan batas itu… adalah aku

Puisi tentang bertahan


Simpang lima boyolali

disitu aku diajari banyak hal

Tentang apapun itu

Termasuk hal tentang bertahan.


saat kau lama bersama seseorang

kau tak lagi melihatnya dengan cara yang sama

Bukan karena cinta memudar

tapi karena kau mulai melihatnya lebih utuh, lebih nyata


Dulu, kau jatuh cinta pada senyum manisnya

tawanya yang sederhana

perhatian kecil yang entah bagaimana

menyelamatkan harimu yang gelap.

Dulu, ia adalah rumah yang hangat


Namun waktu berjalan

dan sisi-sisi lain pun muncul

kelelahan yang diam-diam tertumpuk

emosi yang kadang tak terkendali

kebiasaan yang tak selalu sejalan

Cinta dulu menutup matamu dengan harapan


Lalu datang wajah baru

dengan cerita yang belum kau tahu

Kau bertanya

kenapa rasanya lebih mudah mencintainya?


Padahal

kau lupa, dulu kau juga memulai dari titik yang sama

Siklus itu berulang

Setiap orang membawa luka

setiap hubungan membawa ujian


Jika kau memilih yang baru

bulan madu akan datang kembali

Namun setelahnya

kekurangan kembali muncul

keraguan kembali menyapa

dan mungkin

keinginan untuk menemukan yang baru lagi


Bukan karena dia tak pantas dicinta

tapi karena kau tak pernah belajar bertahan

Cinta bukan tentang yang sempurna

tapi tentang memilih, setiap hari

Menerima sisi gelapnya

dan tetap memilih untuk tinggal

Puisi tentang cemburu


Hari Ini, Aku Iri


Hari sial tak mengetuk pintu,

ia datang tanpa aba-aba,

menyelinap sunyi,

menusuk hati tanpa suara.


Kulangkahkan kaki pulang dari kampus,

dengan tubuh letih,

jiwa penat,

dibalut sepi yang tak kupinta.


Di tangga itu,

dua insan tertawa ringan,

berbagi kisah tentang lelahnya kuliah.

Lelah yang justru terasa indah,

karena ada tempat untuk bersandar cerita.


Aku diam...

lalu iri.


Kakiku melangkah pergi,

tapi pikiranku tertinggal di sana,

pada bayangan,

andai tawa itu milikku.


Langit pun ikut bersedih,

menurunkan hujan deras seketika.

Aku berteduh,

di bawah atap toko yang asing,

dengan rokok di tangan,

yang bahkan tak sempat kuhidupkan.


Pandangan tertuju pada dua anak SMA,

bersuap-suapan makanan sederhana,

tapi tawa mereka lebih hangat dari kopi pagi.

Aku menghela napas,

lagi-lagi...

aku iri.


Aku putuskan menerobos hujan,

membiarkan dingin meresap,

mungkin bisa meredam yang membakar di dada.


Tapi tak jauh dari sana,

sepasang kekasih melaju di atas motor,

tanpa jas hujan,

tapi penuh canda dan tawa.

Mereka basah,

tapi terlihat paling bahagia di dunia.


Sementara aku?

Masih sendiri,

masih basah,

masih bertanya

mengapa bukan aku yang merasa begitu?


Gas kupelintir,

mata kupejam sesaat,

dan bibirku berbisik...

Sial sekali... hari ini.

Puisi tentang cinta


Salatiga, 14 April 2025

Hujan berderu, menggetarkan langit

Daun-daun gemetar, tak kuasa menampung air yang tumpah

Petir menyalak, menyayat angin

Membuat langkah-langkah memilih diam dalam ruang


Aku duduk di pinggir jendela kelas

Menatap derasnya hujan yang jatuh tanpa kompromi

Setangkai rokok membara di jemari

Segelas teh manis menghangatkan sunyi

Aku diam…

Tenggelam dalam benak yang riuh

Mencari makna paling sunyi dari kata "cinta"


Apakah cinta itu

Saat kita bersikap baik tanpa syarat?

Ataukah saat kita memberi tanpa pernah diminta?

Mungkinkah cinta adalah kebebasan

Yang membiarkan jiwa tumbuh tanpa belenggu?


Pertanyaan-pertanyaan itu

Berkelindan seperti kabut di jendela

Mengaburkan pandang

Membuatku pusing,

Tapi tak bisa berhenti memikirkan

Napak Tilas di Gunung Tidar


Di sebuah sore yang sunyi,

kutapakkan kaki di lereng Tidar yang berselimut kabut.

Gunung ini bukan sekadar hamparan tanah dan pepohonan,

melainkan kitab tua yang bisu,

menyimpan lembar-lembar sejarah

dalam bebatuannya,

dalam desir anginnya,

dalam gema doa para pejalan ziarah.


Aku bukan hanya datang membawa tubuh,

tapi juga membawa tanya,

membawa rindu yang tak bernama,

pada masa yang tak pernah kutemui,

masa di mana tanah ini pertama kali bergetar oleh makna.


Peristiwa demi peristiwa tak hanya berlari,

mereka menetap di sini,

menjadi tapal jejak peradaban,

bukan dongeng pengantar tidur,

melainkan kisah yang terpatri dalam akar,

dalam setiap desir tanah yang kugenggam.


Syekh Subakir,

sang pengelana dari negeri seberang,

menancapkan paku tak kasat mata,

bukan untuk menguasai,

tapi untuk menenteramkan,

agar tanah Jawa berhenti menggeliat,

agar angkara tunduk pada cahaya.


Sabdo Palon,

sang penjaga janji,

masih terdengar lirih suaranya,

di antara kabut dan waktu yang mengendap,

ia tak pergi, hanya menunggu,

hingga suara zaman memanggil kembali.


Magelang,

bukan hanya kota kecil di tengah pulau,

ia adalah jantung dari cerita yang terlupakan,

pelataran bagi jiwa-jiwa yang mencari arah,

penjaga kisah yang terlalu suci untuk dilupakan.


Kini aku di sini,

berdiri di atas tanah yang sama,

yang pernah disentuh oleh mereka yang menulis sejarah,

dengan doa, dengan darah, dengan harapan.


Kupejamkan mata,

dan dalam diam kubayangkan,

bagaimana suara masa lalu menggema di antara pohon-pohon tua,

bagaimana langkah para wali menelusuri jalan terjal

dengan cahaya di dada dan sabar di kaki.


Aku ingin melihatnya,

bukan dengan mata,

tapi dengan jiwa.

Ingin merasakannya,

bukan lewat cerita,

tapi lewat napas yang menggetarkan dada.


Gunung Tidar,

hari ini aku datang bukan sebagai tamu,

tapi sebagai anak dari tanah yang sama,

yang ingin tahu, yang ingin mengerti,

yang ingin memeluk sejarah


bukan untuk kembali ke masa lalu,

tapi untuk membawa maknanya ke masa depan.

Dalam Sepi yang Kupeluk Sendiri



Akulah jiwa yang berjalan sendiri,
menyusuri lorong-lorong hari
tanpa bayang sahabat sejati
yang sanggup meniup bara semangat dalam hati.

Langkahku berat oleh dosa-dosa lama,
kupanggul sendiri tanpa tanya,
barangkali…
aku hanya ingin terasa ada,
di sisi seseorang yang sudi menyapa
meski hanya dalam diam dan luka.

Dengan tangan menggenggam sebotol nestapa,
kutatap langit tanpa suara,
berharap ada satu jiwa
yang duduk bersamaku, meski tanpa kata.

Aku selalu memilih sendiri,
mendirikan dinding dalam sunyi,
namun tak bisa kupungkiri,
tatkala kutatap mereka yang saling menggandeng mimpi,
ada desir iri dalam hati,
sebab aku hampa,
tanpa satu pun sosok
yang menyebutku:
teman.

excited


Kumulai dengan candaan,
mengirim tautan video,
sesuatu yang viral,
sesuatu yang harusnya lucu.

Aku tertawa kecil,
menunggu jeda,
menunggu balasan,
menunggu......

Tapi kau,
acuh.
Diam.
Tak ada suara, tak ada tawa.

Seperti berbicara dengan batu,
aku mengetuk,
aku berdeham,
aku bertanya dalam hati:
salahkah aku bercanda?
Atau hanya aku yang excited sendiri?

Tiba-tiba, hening terasa lebih panjang,
lebih dalam,
lebih menusuk dari sekadar candaan yang tak kau tanggapi.

Aku meragu,
kau tetap membatu.

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...