Pulau sebrang, di mana melayu bersyair lembut,
Di tepian takdir, angin memahat waktu yang larut.
Keindahanmu tak sekadar di mata,
Namun meresap, melahirkan getar di palung jiwa.
Petikan gitar tunggal menggema di senyap malam,
Nada-nada lirih membalut luka dan harapan kelam.
Setiap senja di peluk cakrawala,
Menjadi saksi bisu cinta yang tak bernama.
Ah, kasih, senjamu bukan sekadar jingga,
Melainkan ruang tempat rindu menetap selamanya.
Aku terpesona, terpaku dalam diam,
Melayumu bukan hanya bahasa,
Tapi lantunan yang menuntunku pulang.
Bawalah aku, kasih, ke pelukan pulau sebrang,
Tempat segala asa dan cinta bermuara tenang.
Bersama kita menyusuri labirin keindahan,
Mengukir kisah abadi di tanah melayu yang bertabur kenangan.




