Pulau Sebrang

 


Pulau sebrang, di mana melayu bersyair lembut,

Di tepian takdir, angin memahat waktu yang larut.

Keindahanmu tak sekadar di mata,

Namun meresap, melahirkan getar di palung jiwa.


Petikan gitar tunggal menggema di senyap malam,

Nada-nada lirih membalut luka dan harapan kelam.

Setiap senja di peluk cakrawala,

Menjadi saksi bisu cinta yang tak bernama.


Ah, kasih, senjamu bukan sekadar jingga,

Melainkan ruang tempat rindu menetap selamanya.

Aku terpesona, terpaku dalam diam,

Melayumu bukan hanya bahasa,

Tapi lantunan yang menuntunku pulang.


Bawalah aku, kasih, ke pelukan pulau sebrang,

Tempat segala asa dan cinta bermuara tenang.

Bersama kita menyusuri labirin keindahan,

Mengukir kisah abadi di tanah melayu yang bertabur kenangan.

Cemburu dengan waktu


Sungguh menawan lelaki itu,

Bagaikan senja yang tenang membiru.

Namun aku, meski tak seindah itu,

Tetap berdiri dengan cinta yang kukuh di kalbu.


Sungguh gagah lelaki itu,

Bagaikan karang menantang samudra membiru.

Namun aku, yang tak sekokoh itu,

Menyimpan harap dalam senyum yang tak pernah berlalu.


Sungguh kaya lelaki itu,

Gemerlap berlian mengisi ruang waktu.

Namun aku, meski hanya bermimpi sederhana,

Membawa kesetiaan sebagai harta berharga.


Aku melihat mereka mendekatimu,

Bagai purnama yang bercahaya sempurna.

Namun, aku bukan mereka—dan itu tak mengapa,

Karena cintaku tak dibutakan dunia.


Kau mungkin terpikat kilau mereka,

Tapi kilau memudar di balik duka.

Saat janji terlupa dan hati tak dijaga,

Aku tetap ada, dengan cinta yang sederhana.


Kini, biarlah waktu yang berbicara,

Bahwa keindahan tak hanya rupa semata.

Aku tak sempurna, aku tahu itu,

Tapi cintaku tulus,dan itu milikku untukmu.

Menelusuri Jejak Dirinya

 

Kumulai langkah ini untuk mengenalnya,

Semakin jauh, semakin tersingkap rahasia.

Sosok yang kini berdiri di hadapanku,

Bukan lagi dirinya yang dulu,

Namun jejak masa lalu perlahan membentuknya.


Aku termenung, mencoba memahami,

Adakah ini kehendaknya sendiri,

Ataukah sekadar peran yang dipaksakan waktu?

Senyumnya terlihat tenang,

Namun matanya menyimpan badai yang sunyi.


Ia tampak akrab dengan dirinya kini,

Seolah merangkul takdir yang tergariskan.

Namun, jauh di relung hatinya,

Ada kesunyian yang tak pernah bersuara,

Ada rindu pada dirinya yang pernah ada.


Aku ingin menyentuh sisi itu,

Membawanya pulang ke keaslian yang hilang.

Bukan bayang masa lalu yang memimpin,

Namun cahaya dirinya yang sejati bersinar terang.


Di balik topeng yang ia kenakan,

Aku tahu ia mendamba kebebasan.

Bebas dari belenggu kerangka lama,

Bebas menjadi dirinya, sepenuh jiwa.

Mawar putih


Seperti berada di taman yang luas,

Dengan hamparan bunga-bunga yang cantik jelita,

Seakan mereka merayu,

Meminta untuk dipetik dari tangkainya.


Hingga saat aku menyusuri taman itu,

Satu bunga memikat pandanganku,

Warnanya putih, melambangkan kesucian,

Helaian mahkotanya tersusun rapi,

Seindah kesempurnaan yang tak tersentuh.


Ialah mawar putih,

Ialah yang menawan hatiku,

Hingga aku petik satu darinya,

Dari ribuan bunga yang menghiasi taman itu.


Begitulah cintaku,

Banyak wajah elok nan jelita,

Banyak pesona yang menggoda rasa,

Namun dari semua keindahan itu,

Hanya kamu yang mampu menggetarkan hatiku.


Kutemui gadis melayu di perpustakaan


Di penghujung tahun 2024,
Lagu-lagu Melayu bergema perlahan,
Lembut, menyelinap di telinga,
Membawa ingatan pada sebuah masa,
Saat hatiku pertama kali terpaut padamu.
Kala itu, aku menyusuri deretan buku,
Mencari sesuatu yang bahkan tak kutahu apa.

Lalu, dari celah-celah rak yang sempit,
Kau muncul, sederhana, tanpa rekayasa.
Wajahmu, selembut cahaya pagi,
Tatapanmu menembus tanpa permisi.
Aku terpaku, terhenti sejenak,
Seakan waktu enggan bergulir lagi.
Tradisi Melayu tergambar sempurna,
Dalam caramu berdiri, dalam diammu.
Ada keanggunan yang tak terucapkan,
Menyentuh hati, perlahan-lahan menyembuhkan.

Seakan adat Melayu berbisik pelan:
“Indah nan elok, tak tertandingi.”
Begitulah pikiranku terpaut,
Dalam pesonamu yang sunyi namun mendalam.
Tak mampu kupungkiri, aku terpesona,
Pada caramu hadir tanpa suara.
Di antara buku-buku itu kau ada,
Meninggalkan jejak yang tak lekang oleh masa.

Dan akhirnya, aku mengenalmu.
Kehadiranmu menjadi kisah dalam hatiku,
Sebuah bab yang akan terus kubaca,
Wanita di balik buku-buku.


 

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...