ANTARA LOGIKA DAN HATI


 Hati gundah tak menentu,

pikiran suram selalu menghantuiku.

Ku nyalakan sebatang rokok,

kubiarkan asapnya naik perlahan,

menyisakan ruang bagi suara hati

yang sejak tadi tak mampu kutenangkan.


Malam terlalu sepi,

tapi kepalaku terlalu ramai.

Ada seribu rasa yang menumpuk,

berdesakan tanpa antrian,

memaksa keluar meski aku sendiri

belum siap mendengarnya.


Ku awali semuanya dengan satu pertanyaan kecil

yang terasa seperti membawa beban besar:

Mengapa?


Mengapa ketika kita mencoba menunjukkan jalan lurus,

kita justru dianggap tidak mendukung?

Mengapa niat baik harus diterima sebagai kesalahan?

Padahal setiap kata yang kita ucapkan,

setiap peringatan yang kita berikan,

itu semua bersumber dari rasa sayang,

bukan dari keinginan untuk mengekang.


Orang berkata kita ini tidak mengerti,

tidak tahu cara menghargai,

tidak tahu cara mendukung orang yang kita cintai.

Padahal mereka tidak pernah benar-benar melihat

apa yang ada di balik kata-kata kita.


Mereka tidak tahu bahwa kita diam-diam

mengukur setiap kalimat,

takut menyakitinya,

tapi lebih takut lagi melihat mereka terluka

karena memilih jalan yang salah.


Kadang aku berpikir,

hubungan itu tak melulu soal mengikuti kata pasangan,

tapi soal saling menjaga 

meski itu berarti harus berkata hal-hal

yang tidak ingin mereka dengar.


Ibarat seseorang yang berjalan di jalan gelap,

tak menyadari bahwa hanya beberapa langkah lagi

ada jurang menganga menunggu di depan.

Sebagai pasangannya,

apakah aku harus berkata,

“Teruslah berjalan, aku mendukungmu”?

Atau haruskah aku berkata,

“Berhenti sebentar, jangan ke sana,

aku takut kamu jatuh dan terluka”?


Kalau diam saja dianggap salah,

bicara pun dianggap lebih salah,

lalu di mana tempatku berdiri?

Di mana letak harganya niat baik

yang selalu aku jaga dengan hati-hati?


Itulah yang kurasakan sekarang.

Perasaan ketika kasih sayangmu

diterjemahkan menjadi penghalang,

ketika nasihatmu dianggap sebagai belenggu,

ketika rasa pedulimu disingkat menjadi kritik.


Dan aku kembali pada pertanyaan yang sama,

yang terus menggema di kepalaku:

Mengapa?


Mengapa niat baik bisa begitu mudah disalahpahami?

Mengapa segala bentuk perhatian

justru dianggap sebagai penentangan?

Mengapa seseorang yang kita jaga dengan hati-hati

tak bisa melihat bahwa kita hanya ingin yang terbaik?


Aku tidak meminta untuk selalu didengar,

aku hanya ingin dimengerti.

Bahwa jalan lurus yang kutunjukkan

bukan karena aku mengikatmu,

tapi karena aku takut kehilanganmu

di tikungan yang tidak kau sadari.


Dan sampai sekarang,

meski rokokku hampir habis,

meski malam semakin larut,

pertanyaan itu tetap bergelayut:

Mengapa?

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...