Sejak saat itu


Sejak saat itu,

Kobaran cinta di lubuk hatiku

Menjadi sebatang lilin yang redup,

Sedikit demi sedikit merenggut cahaya, menunggu habis.


Sejak saat itu,

Jutaan tanya berputar jelas di kepala.

Apakah semua yang ada akan berlalu?

Ataukah bisa tetap terjaga,

Dengan pupuk cinta yang terus menyuburkan rasa?


Sejak saat itu,

Sadar telah tumbuh di benakku,

Tentang segala yang terjadi.

Hidup hanya mengenal dua jalan:

Cahaya atau gelap,

Tawa atau tangis,

Dan cinta yang kekal atau rindu yang pudar.

TENTANG RASA



Seperti pertama kalinya kakiku

Menjejak ke tempat yang indah ini,

Dengan hamparan pasir yang lembut,

Dengan air laut yang menerjang karang.

 

Iya, pantai dengan segala pesonanya

Pantai yang menyambut bisikan ombak

Rasanya tak ingin sekali beranjak pergi

Tetap di sini menikmati kedamaian ini.

 

Ah tidak!, aku tak akan pergi, pikirku

Kan ku nimati desiran angin, nyanyian air

Hingga panas menyelinap perlahan

Membakar kulit, menguji ketahanan

 

Aku bertahan, menahan perih

Sampai ku sadari, aku bukanlah batu

Yang mampu menahan hal itu

Tapi aku tetap bertahan

Dengan bersembunyi di bayangan teduh

 

Mungkin sejuk akan kembali

Atau panas semakin menyala

Kan ku tetap disini

Sampai saat itu tiba

Kala Itu

 


Kala itu, pertama kali ku terpesona oleh parasmu,

Kala itu, pertama kali hatiku terpaut padamu,

Kala itu, pertama kali kita merajut kisah berdua.


Kini, ku putar lagi senandung kenangan,

Saat aku dicintai dengan tulus olehmu,

Saat aku dihargai tanpa ragu,

Saat bersamamu adalah dunia paling indah.


Rindu itu menjelma bayang di senja yang meredup,

Ingin ku genggam kembali masa itu,

Namun seperti kata pepatah

"Menanam itu gampang, merawat agar berbuah yang sulit."


Percaya pada keajaiban bukanlah keliru,

Sebab dalam lubuk hatiku,

Aku ingin merasakan itu lagi,

Setidaknya sekali, pada saat genap umurku

Memilih


Waktu akan terus berjalan

Aku menunggu, merangkai harapan

Tapi kau selalu berlalu

Seakan waktu milikmu sendiri


Aku bisa bertahan,

Menyesuaikan diri dengan sepi

Menjadi bunglon yang berdiam diri

Hanya berubah saat kau menginginkannya


Atau aku bisa seperti serigala

Yang tak peduli angin menerjang

Berdiri tegak dengan luka

Memilih jalan tanpa harus berharap


Ini bukan sekadar rasa

Tapi tentang memilih arah

Terbiasa tanpa hadirmu

Atau tak bisa membiasakan kehilanganmu


Aku lelah mengejar bayang

Mengemis waktu yang tak kau beri

Sementara aku selalu ada

Tapi kau tak pernah benar-benar di sini


Biar waktu mengajariku arti kesabaran

Biar hati menuntunku pada kenyataan

Jika harus sendiri, biarlah

Karena pada akhirnya

Waktumu adalah hakmu

Dan aku, berhak menentukan jalanku sendiri

kapal berlayar

Bunga telah mekar di ujung musim
Buah-buah matang menanti dipetik
Waktu melaju tanpa menoleh
Tak terasa sudah tiga purnama
Kita berjalan dalam cerita yang sama

Mereka berkata,
Jika kapal mulai berlayar jauh
Ia akan menari di atas ombak besar
Jika cinta melangkah semakin jauh
Badai akan hadir menguji keteguhan

Beginilah kisah asmara ini
Detik-detik yang menempa hati
Mengajari makna menerima
Meneguhkan langkah untuk bertahan
Demi janji yang kupatri dalam jiwa

Laki-laki tak dicipta untuk berdusta
Laki-laki tak diajarkan untuk menyerah
Laki-laki menanam sumpah di dadanya
Untuk menjaga, melindungi, dan setia

Namun, laki-laki tetaplah manusia
Seperti kapal yang diterjang gelombang
Lama-lama akan rapuh juga
Saat kasih berubah menjadi dingin
Saat kelembutan tak lagi menghampiri
Ia hanyut perlahan dalam kelelahan

Begitu beratnya perjuangan
Saat tangan kosong tak mampu memberi
Harga diri terasa runtuh seperti pasir tersapu laut
Saat waktu tak bisa diserahkan sepenuhnya
Ia menjadi bayang-bayang yang tak lagi dikenali

Hingga akhirnya, kapal ini karam
Bukan karena badai yang terlalu besar
Tetapi karena tak lagi dianggap ada

penguin terdampar di padang tandus


 Kemana lagi kuceritakan rasa ini?

Tentang debar yang tak biasa

Aku terpaksa menapaki jalan yang asing,

bagai penguin terdampar di padang tandus,

menanti salju yang tak pernah turun.


Sebenarnya, cinta itu seperti apa?

Apakah ia seperti induk ayam 

merangkul erat, melindungi setiap waktu?

Ataukah seperti burung di angkasa,

melepas dengan sayap terbuka?


Serumit inikah cinta?

Atau hanya hatiku yang terlalu resah,

terjebak dalam tanya tanpa jawab?


Namun satu hal yang kutahu,

cinta bukan sekadar tempat singgah,

ia adalah pengorbanan tanpa pamrih,

seperti laut yang tak pernah lelah

memeluk ombak, meski berkali pecah.


Hitam putihnya pikiranku


8 maret 2025

Hari di mana kecewa bersemayam,

Hari di mana kusadar sepenuhnya,
Bahwa hati tak bisa dipaksa,
Untuk terus bersama.

Namun di sudut pikiranku,
Ada tanya yang tak terjawab,
Mengendap di benakku,
Membisikkan ragu yang tak kumengerti.

Sosok seorang wanita kembali hadir,
Menjelma di antara sunyi,
Menyelinap dalam lelapku,
Mengusik malam-malamku.

Tak pernah kuduga kehadirannya,
Tak pernah kubayangkan wajahnya,
Namun ia datang berulang kali,
Seakan ingin berkata sesuatu.

Dialah yang dulu menantiku,
Menawarkan cinta yang tak kupedulikan,
Namun kini, justru ia yang menghantuiku.


Menurutku

 


Menurutku Kau adalah samudra yang tenang di permukaan,
namun menyimpan pusaran di dasarnya.
Kau adalah senja yang menawan,
tapi perlahan menelan cahayaku dalam gelap.

Apakah aku benar-benar kau cintai?
Di sunyi, aku seperti rembulan yang kau kagumi,
kau jaga, kau puja dengan lirih.
Namun di tengah keramaian,
aku hanyalah debu di jalanan,
terinjak langkah-langkahmu yang ragu.

Apakah aku benar-benar kau cintai?
Kurelakan diriku menjadi sungai,
mengalir deras hanya menuju lautanmu.
Kutanggalkan waktu, kurengkuh sepi,
namun kau sering menghilang,
menjadi angin yang berbisik tanpa wujud,
membawa janji yang hancur sebelum sempat bermekaran.

Apakah aku benar-benar kau cintai?
Ketika bersamaku, kau berkata nanti,
berdalih waktu, bersembunyi di balik etika.
Namun saat bersama yang lain,
kau menari dalam hujan tanpa takut basah,
kau terbang bebas tanpa beban,
seolah janji-janji itu hanya rantai yang mengikatku sendirian.

Lalu, katakan…
Apakah aku hanya bayangan di matamu?
Ada, tapi tak pernah kau genggam.

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...