Tan Malaka pernah berkata, “Jika orang yang menganggap bahwa dirinya pintar dan berpendidikan tapi tidak mau melebur di masyarakat yang bekerja hanya dengan cangkul, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Pernyataan ini begitu kuat dan menyentuh, tidak hanya karena ia lahir dari seorang pemikir besar bangsa, tetapi karena maknanya sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Tanpa harus memperdebatkan latar belakang Tan Malaka, saya sangat setuju dengan pemikiran ini.
Zaman sekarang, kita menyaksikan banyak pemuda yang merasa dirinya lebih tinggi karena status pendidikannya. Mereka memandang rendah orang-orang yang bekerja dengan tangan, keringat, dan alat sederhana seperti cangkul. Seolah-olah ijazah atau gelar akademik memberi mereka hak untuk merendahkan orang lain yang mungkin tidak seberuntung mereka dalam hal akses pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya mendekatkan qmanusia kepada kemanusiaannya, bukan menjauhkannya dari realitas sosial.
Yang paling menyakitkan bagi saya adalah ketika orang-orang berpendidikan justru menunjukkan sikap semena-mena kepada mereka yang dianggap “lebih rendah” secara ekonomi atau intelektual. Mereka lupa bahwa di balik sawah yang mereka pandang remeh, ada petani yang bekerja keras agar kita bisa makan. Mereka lupa bahwa di balik jalanan bersih yang mereka lalui, ada penyapu jalan yang bekerja sebelum matahari terbit. Inilah ironi dunia modern, pendidikan yang seharusnya mencerdaskan dan merendahkan hati, justru dijadikan alat untuk membanggakan diri dan menciptakan jarak sosial.
Melebur dengan masyarakat bukan berarti kehilangan identitas atau menyia-nyiakan pendidikan. Justru, di situlah letak kemuliaan ilmu: ketika ia bisa diterapkan untuk memperbaiki keadaan, membantu sesama, dan menciptakan keadilan sosial. Tanpa itu semua, pendidikan hanyalah gelar kosong yang tak bermakna.
Kita butuh lebih banyak orang berpendidikan yang tidak hanya pintar dalam teori, tapi juga memiliki empati dan keberpihakan kepada masyarakat. Orang yang bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan siapa pun, tanpa merasa lebih hebat hanya karena telah duduk di bangku kuliah. Jika tidak, mungkin benar kata Tan Malaka, lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.