Puisi sedih

Karma


Akhirnya aku percaya,

karma itu nyata.

Datang tanpa suara,

menikam tanpa ampun,

di saat aku paling lengah.


Rasanya perih,

bukan luka biasa.

Aku yang tak kenal air mata,

kini basah karena satu nama.


Tuhan...

kenapa karma ini Kau jatuhkan padaku?

Apa aku sebegitu pantas dihukum,

atau ini bagian dari perhitungan-Mu?


Tapi ketakutanku bukan soal diriku,

bukan soal rasa yang tercabik.

Yang kutakutkan adalah saat,

dia yang memberi luka,

akan dihancurkan dengan cara yang sama.


Karena karma adalah rantai yang tidak akan terputus

Jika yang diberi karma mampu memutusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...