Puisi tentang kota solo


Dalam pelukan kota solo


Solo, kota dengan nafas ilmu,

Langkah-langkah bijak tumbuh di sudut-sudut sekolahmu.

Guru-guru menanam hikmah

pada tiap benih yang haus akan makna.

Kau bukan sekadar tanah peradaban,

tapi ladang harapan yang terus ditanam,

disiram oleh cita dan keyakinan.


Solo, kau berbalut batik indah,

setiap helai menyimpan cerita

tentang tangan-tangan cekatan yang menari di atas malam,

mewarnai dunia dengan warisan agung

yang tak lekang oleh musim atau waktu.


Lalu kulangkahkan kaki di tengah aroma

nasi liwet hangat, tengkleng penuh kenangan,

mengisi ruang kosong di perut dan hati

dengan rasa yang begitu bersahaja

namun tak mudah dilupa.


Dan di antara alun-alun yang tenang,

keratonmu berdiri tak tergoyahkan

menjadi nafas budaya,

mengajarkan diam yang bijak

dan spiritualitas yang lembut

seperti tembang-tembang yang dilantunkan malam.


Namun, di balik segala keindahanmu,

aku datang dengan hati yang retak,

menyisipkan duka di sela-sela angin sore hari,

dan kau, kota sunyi yang bersahabat,

tak pernah menolakku.


Kau tak pernah berkata,

tapi selalu mendengar.

Tak pernah bertanya,

tapi selalu mengerti.


Di antara keramaian,

aku justru menemukan ketenangan.

Di tengah lalu lalang manusia,

aku menemukan pelukan tak terlihat

yang tak menghakimi luka atau tangis.


Solo, engkau bukan hanya kota,

engkau adalah sahabat yang sabar,

ibu yang mengayomi,

dan ruang teduh di tengah teriknya dunia.


Tetaplah menjadi rumah,

bagi siapa pun yang lelah

dan ingin pulang,

meski hanya untuk sebentar

menaruh hatinya yang lelah

di pangkuanmu yang ramah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...