puisi tentang kenangan di pantai


 Hatiku mulai membujukku,

dengan bisikan lembut yang tak bisa kutolak,

mengetuk perlahan pintu rasa yang lama terkunci,

mengajak kembali ke waktu,

di mana kenangan bukan sekadar bayangan,

melainkan hidup bernafas dalam diam.


Malam itu sunyi,

aku duduk sendiri, menggenggam waktu yang tak kembali.

Kubuka TikTok-ku, seperti biasa,

scroll demi scroll kulalui tanpa makna,

hingga satu video menjerat pandanganku,

pantai biru, ombak lembut, dan cahaya senja

Oh Watunene, bisik hatiku.


Tiba-tiba, angin lalu meniup jiwaku

membawa aroma asin laut dan kenangan yang tak kusangka kembali.

Terputar jelas seperti film di kepala,

aku berlari, di antara pasir yang memeluk kaki telanjangku,

ombak bernyanyi memanggil nama kita berdua,

dan dia,yang kini masih menggenggam tanganku

tersenyum seperti tak ada duka.


Saat itu, dunia terasa begitu sederhana,

hanya tawa, pasir, langit jingga,

dan hati yang saling percaya.

Kami berteriak tanpa beban,

mengejar angin, menertawai lelah,

hingga lupa bahwa tubuh ini pernah rapuh.


Watunene bukan hanya pantai,

ia adalah tempat di mana aku menemukan arti "pulang",

bukan pada rumah, bukan pada kota,

melainkan pada seseorang

yang hadir bukan untuk menetap,

tetapi untuk membuat kenangan tak pernah padam.


Kini, meski waktu terus melaju,

dan pantai itu entah masih sama atau tidak,

namun dalam hatiku,

Watunene tetap hidup

sebagai puisi, sebagai kenangan,

dan sebagai tempat di mana aku pernah benar-benar bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...