Tentang jodoh

 

Kali ini kita ngobrol santai soal jodoh, ya. Biasanya mungkin bahas cinta itu lewat puisi, tapi sekarang coba kita lihat dari sudut pandang yang lebih jujur dan realistis.


Perihal jodoh ya,banyak yang bilang jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi, pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia nggak punya peran sama sekali dalam hal itu?


Menurutku, memang benar kalau jodoh udah ditakdirkan sama Allah. Tapi kalau kita sendiri nggak ngapa-ngapain, cuma duduk diam dan berharap jodoh datang tiba-tiba, ya kemungkinan besar nggak akan terjadi. Karena jodoh itu nggak kayak hujan yang jatuh dari langit begitu aja. Kita tetap harus usaha.


Ibaratnya begini,ada orang yang dipenjara, nggak bisa kemana-mana, nggak bisa kenalan sama siapa-siapa. Kira-kira, dia bisa nemu jodoh nggak? Mungkin aja bisa, karena nggak ada yang mustahil bagi Allah. Tapi kalau kita mikir jodoh bakal datang sendiri tanpa kita ngelangkah, tanpa membuka diri, tanpa memperbaiki diri, ya itu mustahil.


Allah nyuruh kita buat usaha. Bahkan dalam Al-Qur'an pun jelas disebut, Allah nggak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mengubahnya. Termasuk urusan jodoh.


Sering kali kita terlalu nunggu “tanda-tanda dari langit,” padahal bisa jadi jodoh itu hadir lewat langkah kecil yang kita ambil. Bisa dari memperluas pergaulan, memperbaiki akhlak, menyapa duluan, atau sekadar membuka hati.


Tapi setelah usaha, tetap harus pasrah juga. Karena ada kalanya kita udah merasa cocok, udah berjuang, tapi ujungnya nggak berjodoh. Di situ kita belajar, bahwa jodoh bukan soal siapa yang paling keras ngejar, tapi siapa yang Allah pilih untuk kita.


Terus, ada juga temanku yang pernah nanya,

"Gimana kalau kita udah berusaha, tapi yang kita usahakan itu nggak ngusahain balik?"


Dan jujur aja, pertanyaan itu nyakitin banget. Karena nggak ada yang lebih capek daripada berjuang sendirian dalam hubungan yang harusnya dijalani berdua.


Hubungan itu kerja sama dua orang. Bukan cuma satu yang ngejar, satu lagi cuek. Kalau cuma satu yang berjuang, itu bukan cinta itu pengorbanan sepihak.


Kadang kita terlalu fokus ngejar seseorang, sampai lupa nanya ke diri sendiri,"Dia ngejar balik nggak sih?"

Dan di situ pentingnya kita punya batas. Kita boleh usaha, tapi juga harus sadar kapan harus berhenti. Karena cinta yang sehat itu saling. Sama-sama mau, sama-sama niat, sama-sama usaha.


Kalau nggak ada timbal balik, mungkin itu tandanya dia bukan orang yang Allah siapkan buat kita. Dan bukan berarti kita gagal. Bisa jadi justru kita diselamatkan.


Iya, rasanya pasti sakit. Tapi lebih sakit lagi kalau terus-terusan bertahan di hubungan satu arah. Karena cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi siapa yang mau berjalan bareng.


Jadi, kalau kamu udah usaha tapi nggak ada respon, nggak apa-apa kok kalau kamu mundur. Bukan berarti kamu menyerah, tapi kamu sedang menjaga hati. Biar nanti, ketika waktunya tiba, kamu bisa kasih cinta yang sehat buat orang yang juga siap berjuang buat kamu.


Percayalah, jodoh itu akan datang. Nggak cuma sebagai jawaban dari doa-doamu, tapi juga sebagai orang yang akan mengusahakan kamu seperti kamu mengusahakan dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...