Di penghujung tahun 2024,
Lagu-lagu Melayu bergema perlahan,
Lembut, menyelinap di telinga,
Membawa ingatan pada sebuah masa,
Saat hatiku pertama kali terpaut padamu.
Kala itu, aku menyusuri deretan buku,
Mencari sesuatu yang bahkan tak kutahu apa.
Lalu, dari celah-celah rak yang sempit,
Kau muncul, sederhana, tanpa rekayasa.
Wajahmu, selembut cahaya pagi,
Tatapanmu menembus tanpa permisi.
Aku terpaku, terhenti sejenak,
Seakan waktu enggan bergulir lagi.
Tradisi Melayu tergambar sempurna,
Dalam caramu berdiri, dalam diammu.
Ada keanggunan yang tak terucapkan,
Menyentuh hati, perlahan-lahan menyembuhkan.
Seakan adat Melayu berbisik pelan:
“Indah nan elok, tak tertandingi.”
Begitulah pikiranku terpaut,
Dalam pesonamu yang sunyi namun mendalam.
Tak mampu kupungkiri, aku terpesona,
Pada caramu hadir tanpa suara.
Di antara buku-buku itu kau ada,
Meninggalkan jejak yang tak lekang oleh masa.
Dan akhirnya, aku mengenalmu.
Kehadiranmu menjadi kisah dalam hatiku,
Sebuah bab yang akan terus kubaca,
Wanita di balik buku-buku.

🤍
BalasHapus