Hari Ini, Aku Iri
Hari sial tak mengetuk pintu,
ia datang tanpa aba-aba,
menyelinap sunyi,
menusuk hati tanpa suara.
Kulangkahkan kaki pulang dari kampus,
dengan tubuh letih,
jiwa penat,
dibalut sepi yang tak kupinta.
Di tangga itu,
dua insan tertawa ringan,
berbagi kisah tentang lelahnya kuliah.
Lelah yang justru terasa indah,
karena ada tempat untuk bersandar cerita.
Aku diam...
lalu iri.
Kakiku melangkah pergi,
tapi pikiranku tertinggal di sana,
pada bayangan,
andai tawa itu milikku.
Langit pun ikut bersedih,
menurunkan hujan deras seketika.
Aku berteduh,
di bawah atap toko yang asing,
dengan rokok di tangan,
yang bahkan tak sempat kuhidupkan.
Pandangan tertuju pada dua anak SMA,
bersuap-suapan makanan sederhana,
tapi tawa mereka lebih hangat dari kopi pagi.
Aku menghela napas,
lagi-lagi...
aku iri.
Aku putuskan menerobos hujan,
membiarkan dingin meresap,
mungkin bisa meredam yang membakar di dada.
Tapi tak jauh dari sana,
sepasang kekasih melaju di atas motor,
tanpa jas hujan,
tapi penuh canda dan tawa.
Mereka basah,
tapi terlihat paling bahagia di dunia.
Sementara aku?
Masih sendiri,
masih basah,
masih bertanya
mengapa bukan aku yang merasa begitu?
Gas kupelintir,
mata kupejam sesaat,
dan bibirku berbisik...
Sial sekali... hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar