Akulah jiwa yang berjalan sendiri,
menyusuri lorong-lorong hari
tanpa bayang sahabat sejati
yang sanggup meniup bara semangat dalam hati.
Langkahku berat oleh dosa-dosa lama,
kupanggul sendiri tanpa tanya,
barangkali…
aku hanya ingin terasa ada,
di sisi seseorang yang sudi menyapa
meski hanya dalam diam dan luka.
Dengan tangan menggenggam sebotol nestapa,
kutatap langit tanpa suara,
berharap ada satu jiwa
yang duduk bersamaku, meski tanpa kata.
Aku selalu memilih sendiri,
mendirikan dinding dalam sunyi,
namun tak bisa kupungkiri,
tatkala kutatap mereka yang saling menggandeng mimpi,
ada desir iri dalam hati,
sebab aku hampa,
tanpa satu pun sosok
yang menyebutku:
teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar