Napak Tilas di Gunung Tidar


Di sebuah sore yang sunyi,

kutapakkan kaki di lereng Tidar yang berselimut kabut.

Gunung ini bukan sekadar hamparan tanah dan pepohonan,

melainkan kitab tua yang bisu,

menyimpan lembar-lembar sejarah

dalam bebatuannya,

dalam desir anginnya,

dalam gema doa para pejalan ziarah.


Aku bukan hanya datang membawa tubuh,

tapi juga membawa tanya,

membawa rindu yang tak bernama,

pada masa yang tak pernah kutemui,

masa di mana tanah ini pertama kali bergetar oleh makna.


Peristiwa demi peristiwa tak hanya berlari,

mereka menetap di sini,

menjadi tapal jejak peradaban,

bukan dongeng pengantar tidur,

melainkan kisah yang terpatri dalam akar,

dalam setiap desir tanah yang kugenggam.


Syekh Subakir,

sang pengelana dari negeri seberang,

menancapkan paku tak kasat mata,

bukan untuk menguasai,

tapi untuk menenteramkan,

agar tanah Jawa berhenti menggeliat,

agar angkara tunduk pada cahaya.


Sabdo Palon,

sang penjaga janji,

masih terdengar lirih suaranya,

di antara kabut dan waktu yang mengendap,

ia tak pergi, hanya menunggu,

hingga suara zaman memanggil kembali.


Magelang,

bukan hanya kota kecil di tengah pulau,

ia adalah jantung dari cerita yang terlupakan,

pelataran bagi jiwa-jiwa yang mencari arah,

penjaga kisah yang terlalu suci untuk dilupakan.


Kini aku di sini,

berdiri di atas tanah yang sama,

yang pernah disentuh oleh mereka yang menulis sejarah,

dengan doa, dengan darah, dengan harapan.


Kupejamkan mata,

dan dalam diam kubayangkan,

bagaimana suara masa lalu menggema di antara pohon-pohon tua,

bagaimana langkah para wali menelusuri jalan terjal

dengan cahaya di dada dan sabar di kaki.


Aku ingin melihatnya,

bukan dengan mata,

tapi dengan jiwa.

Ingin merasakannya,

bukan lewat cerita,

tapi lewat napas yang menggetarkan dada.


Gunung Tidar,

hari ini aku datang bukan sebagai tamu,

tapi sebagai anak dari tanah yang sama,

yang ingin tahu, yang ingin mengerti,

yang ingin memeluk sejarah


bukan untuk kembali ke masa lalu,

tapi untuk membawa maknanya ke masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melody cinta

Senandung mu merdu puan Tapi aku bukanlah pendengar yang baik Melody mu bagaikan angin musim hujan Hangat menyapa, namun tak bisa ku sambut ...